Film pendek “Sajadah di Atas Polusi” karya Kharisma Hendi Mahardika, mahasiswa Informatika UIN SAIZU, meraih sukses di kancah internasional

PURBALINGGA — Rumpun ilmu teknologi dan eksakta kerap kali mendapat stigma sebagai bidang yang kaku dan berjarak dari estetika kesenian. Namun, batasan imajiner tersebut berhasil didobrak dengan gemilang oleh Kharisma Hendi Mahardika. Sebagai mahasiswa kelas 6 INF A di Program Studi Informatika UIN Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri (UIN Saizu), ia sukses memukau dewan kurator internasional melalui karya film pendek bervisi tajam di ajang 4th SeIBa (Sejarah, Ilmu, dan Budaya) International Festival 2026.

Ajang festival bergengsi berskala global ini diselenggarakan secara meriah di Kampus III Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang, terhitung sejak tanggal 7 hingga 12 Juli 2026. Pada edisi keempatnya, SeIBa mengangkat tema besar bertajuk “Sustainability from Nusantara to Global Harmony”. Berkompetisi dengan berbagai delegasi perguruan tinggi lintas negara, karya sinematik Kharisma dinilai memiliki relevansi sosiologis yang sangat kuat terhadap isu-isu krisis ekologi dan degradasi lingkungan yang kini menjadi sorotan dunia.

Bertindak sepenuhnya sebagai sutradara sekaligus konseptor cerita, Kharisma Hendi Mahardika mempersembahkan film pendek berjudul “Sajadah di Atas Polusi”. Karya ini menelusuri batas tipis antara pesatnya modernisasi dan ketahanan spiritual manusia. Dengan cermat, penyutradaraan ini turut menyuntikkan napas kearifan lokal dan motif kultural Banyumasan ke dalam identitas visualnya, sehingga isu krisis global yang diangkat terasa jauh lebih membumi dan autentik.

Keberhasilan produksi audiovisual ini tentu tidak lepas dari sinergi tim di balik layar yang solid. M. Anas Syahrul Fatah mengambil peran krusial sebagai penata suara, memastikan setiap detail audio mampu membangun atmosfer yang imersif. Sementara itu, ketajaman naskah berhasil dihidupkan dengan sangat meyakinkan oleh Imam Bukhori dan Abid Zidan yang tampil luar biasa sebagai pemeran utama di depan lensa kamera.

Secara naratif, film ini menitikberatkan pada urgensi menjaga keseimbangan antara kelestarian lingkungan hidup dan tegaknya nilai-nilai ketuhanan di tengah gempuran brutal industrialisasi di perkotaan. Melalui sajian sinematografi yang mendetail—lengkap dengan kalibrasi color grading yang dramatis dan tata framing yang simbolis—penonton disuguhi visualisasi yang menyayat hati. Kharisma membenturkan hiruk-pikuk kehidupan modern yang diselimuti asap polutan dengan keheningan ruang ibadah yang merepresentasikan pencarian ketenangan batin yang abadi.

Pesan mendalam tentang krisis ekologi ini berhasil ditransmisikan tanpa terjebak dalam dikte yang menggurui. Alur cerita yang mengalir secara natural sukses membuat para penonton dan dewan juri dari berbagai latar belakang bahasa serta budaya terhanyut dalam perenungan panjang. Lebih jauh lagi, pencapaian luar biasa di cabang Film Pendek ini menjadi medium pembuktian konkret bahwa mahasiswa dari disiplin ilmu Informatika memiliki kepekaan sosial yang tajam, kerangka penceritaan yang kuat, serta kreativitas tanpa batas dalam mengekspresikan diri.

Karya ini pada akhirnya tidak sekadar membawa pulang pengakuan bergengsi, melainkan juga bertransformasi menjadi instrumen diplomasi budaya; sebuah manifestasi gagasan dari akar Nusantara untuk mencapai harmoni di tingkat global. Prestasi monumental ini diharapkan mampu memantik keberanian mahasiswa lainnya untuk terus mengeksplorasi potensi lintas disiplin dan menyuarakan kritik sosial melalui karya kreatif di panggung dunia.

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berapa 2 + 8 ?
Mohon hitung penjumlahan di atas untuk mengirim komentar.
SAINTEK