Dari Sensor hingga Data: Mahasiswa Ilmu Lingkungan UIN SAIZU Belajar Membaca Kualitas Udara Bersama Peneliti BRIN

Purbalingga — Udara yang kita hirup mungkin tampak sama. Namun, di balik sesuatu yang tak terlihat itu tersimpan banyak data: partikel berukuran mikroskopis, gas pencemar, pola pergerakan massa udara, hingga jejak yang dapat membantu peneliti memperkirakan sumber polusi. Bagaimana data-data tersebut diperoleh dan diterjemahkan menjadi informasi lingkungan yang dapat dipertanggungjawabkan?

Pertanyaan inilah yang membawa mahasiswa Program Studi Ilmu Lingkungan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN SAIZU) Purwokerto lebih dekat dengan dunia teknologi pengukuran lingkungan melalui Studium General bertema “Teknologi Pengukuran dan Aplikasinya dalam Bidang Ilmu Lingkungan”, Rabu (16/9/2026).

Bertempat di Aula Lantai 3 Gedung Fakultas Sains dan Teknologi, Kampus II UIN SAIZU, kegiatan tersebut menghadirkan Dr. R. Rudi Anggoro Samodro, M.Sc., peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Ia tercatat sebagai peneliti pada Pusat Riset Teknologi Manufaktur Peralatan sekaligus Ketua Kelompok Riset Teknologi Manufaktur Sistem Pengukuran.

Ketika Persoalan Lingkungan Harus Dibaca Melalui Data

Persoalan lingkungan tidak cukup hanya diamati dengan mata. Untuk mengetahui kualitas udara, misalnya, peneliti membutuhkan instrumen yang mampu mengubah kondisi lingkungan menjadi data yang dapat diukur, dianalisis, dan dibandingkan. Di sinilah teknologi pengukuran memiliki peran penting. Dalam Studium General tersebut, mahasiswa diperkenalkan dengan berbagai teknologi pemantauan kualitas udara, mulai dari penggunaan low-cost sensor, metode pengambilan contoh uji, kalibrasi, hingga pengujian kinerja instrumen.

Sensor berbiaya relatif rendah membuka peluang pemantauan kualitas udara dilakukan secara lebih luas. Namun, harga perangkat yang lebih terjangkau bukan berarti kualitas data dapat diabaikan. Instrumen tetap memerlukan proses kalibrasi dan pengujian agar informasi yang dihasilkan memiliki tingkat keandalan yang memadai. Mahasiswa pun diajak memahami satu prinsip penting dalam ilmu pengukuran: alat bukanlah akhir dari proses penelitian. Di balik sebuah angka terdapat rangkaian panjang mulai dari pemilihan sensor, perancangan sistem, karakterisasi, kalibrasi dan verifikasi hingga pengolahan serta interpretasi data.

Memburu PM2.5 dan PM10 dari Atas Kendaraan

Salah satu bagian menarik dari materi adalah penerapan pengukuran kualitas udara secara in situ menggunakan instrumen portabel. Dalam contoh penelitian yang dipaparkan, perangkat pengukuran ditempatkan pada atap kendaraan. Kendaraan kemudian bergerak melewati lokasi dengan karakteristik berbeda, seperti persimpangan lalu lintas, jalan utama, kawasan permukiman, hingga area konstruksi.

Instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur berbagai parameter kualitas udara, termasuk PM2.5 dan PM10 serta sejumlah polutan gas. Pendekatan semacam ini memungkinkan peneliti memperoleh gambaran kondisi udara pada berbagai titik secara lebih fleksibel. Namun pekerjaan belum selesai ketika data berhasil dikumpulkan.

Data tersebut selanjutnya dapat dipadukan dengan pendekatan analisis spasial dan pemodelan. Mahasiswa diperkenalkan dengan penggunaan K-Means Clustering untuk membantu mengelompokkan karakteristik polutan serta Back Trajectory Analysis untuk menelusuri pergerakan massa udara dan membantu mengidentifikasi kemungkinan asal polusi.

Dari sinilah teknologi pengukuran bertemu dengan analisis data. Angka-angka yang semula berdiri sendiri perlahan dapat membentuk pola dan memberikan informasi yang lebih bermakna mengenai kondisi lingkungan.

Data yang Banyak Belum Tentu Data yang Baik

Kemajuan sensor dan teknologi digital membuat data semakin mudah dikumpulkan. Akan tetapi, tantangan ilmu lingkungan bukan semata-mata memperoleh sebanyak mungkin data.

Kualitas dan konteks data tetap menjadi persoalan penting. Pengukuran yang dilakukan hanya pada lokasi dan waktu tertentu, misalnya, pada dasarnya merupakan snapshot kondisi lingkungan. Hasil tersebut belum tentu dapat menggambarkan keadaan suatu wilayah sepanjang waktu. Karena itu, pengamatan perlu mempertimbangkan cakupan spasial yang lebih luas dan periode pengukuran yang lebih panjang apabila ingin memperoleh gambaran lingkungan yang semakin komprehensif.

Data awal dari instrumen portabel juga memiliki fungsi strategis. Hasil pemantauan dapat digunakan sebagai preliminary tool untuk membantu menentukan lokasi yang layak diprioritaskan bagi pembangunan stasiun pemantauan permanen. Dengan cara inilah teknologi pengukuran dapat mendukung pengambilan keputusan lingkungan berbasis data.

Mendekatkan Mahasiswa UIN SAIZU dengan Dunia Riset

Studium General dibuka oleh Wakil Dekan I Fakultas Sains dan Teknologi UIN SAIZU, Dr. Fajar Hardoyono, S.Si., M.Sc. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya kegiatan akademik yang mempertemukan mahasiswa dengan praktisi dan peneliti. Pertemuan semacam ini menjadi salah satu cara memperluas wawasan sekaligus memperkuat hubungan antara pembelajaran di perguruan tinggi dan perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi.

Bagi mahasiswa Ilmu Lingkungan, kemampuan memahami teknologi menjadi semakin relevan karena persoalan lingkungan berkembang semakin kompleks. Mahasiswa tidak hanya membutuhkan fondasi teori mengenai lingkungan, tetapi juga perlu mengenal bagaimana sensor bekerja, bagaimana kualitas data dijaga, bagaimana data dianalisis, serta bagaimana hasil pengukuran diterjemahkan menjadi informasi yang berguna.

Kehadiran peneliti BRIN dalam ruang kuliah juga memberikan gambaran lebih dekat mengenai ekosistem riset nasional. BRIN melalui Direktorat Manajemen Talenta mengembangkan berbagai skema pengembangan kompetensi dan pengalaman riset. Salah satunya adalah Program Magang BRIN yang dapat menjadi pintu bagi mahasiswa untuk mengenal aktivitas penelitian sekaligus pengembangan karier di bidang riset.

Menyiapkan Talenta Sains untuk Persoalan Lingkungan Masa Depan

Bagi Fakultas Sains dan Teknologi UIN SAIZU, Studium General ini tidak berhenti sebagai kegiatan akademik satu hari. Pertemuan mahasiswa dengan peneliti, teknologi pengukuran, sensor, pemodelan, dan analisis data menggambarkan arah pembelajaran sains yang semakin dekat dengan persoalan nyata.

Persoalan kualitas udara hanyalah salah satunya. Perubahan iklim, pencemaran, pengelolaan sumber daya alam, hingga pembangunan berkelanjutan membutuhkan sumber daya manusia yang mampu bekerja dengan metode ilmiah sekaligus memanfaatkan perkembangan teknologi.

Karena itu, mahasiswa sains perlu memiliki keberanian untuk bergerak melampaui ruang kelas: mengamati fenomena, mengukurnya, membaca data, menguji temuan, dan pada akhirnya menghasilkan pengetahuan yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Dari sebuah sensor kecil, mahasiswa dapat belajar satu hal besar: lingkungan tidak cukup hanya diamati. Ia perlu diukur, dipahami, dan dijaga berdasarkan data.

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berapa 7 + 5 ?
Mohon hitung penjumlahan di atas untuk mengirim komentar.
SAINTEK